Senin, 14 Juni 2021

Pembacaan Surat Maryam dan Yasin Dalam Tradisi Mitoni

 PEMBACAAN SURAT MARYAM DAN YUSUF DALAM

TRADISI MITONI

(Kajian Living al-Qur’an di Desa Kadilangu, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang)

Muizatul Ulfa (3118026)

Institute Agama Islam Negeri Pekalongan

Alamat : Jl. Kusuma Bangsa No. 09. Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Al-Qur'an sebagai kitab suci  umat Islam, dipandang dan diyakini memiliki pengaruh yang sangat besar dalam jiwa dan perilaku manusia. Kesucian dan keagungan al-Qur'an menjadikan masyarakat Muslim memperlakukannya sebagai kitab suci dan meresepsi dengan banyak hal yang berkaitan dengannya. Studi mengenai living Qur’an dengan mempelajari kehadiran al-Qur’an dalam fenomena-fenomena dari gejala sosial yang tumbuh di dalam masyarakat. Perbedaan letak geografis ataupun masa yang berbeda mempengaruhi cara pandang terhadap al-Qur’an. Dengan mempelajari living Qur’an, akan dijumpai kesadaran masyarakat Islam terhadap ajaran agamanya. Sebagai contoh, banyak dijumpai kegiatan-kegiatan keagamaan dalam masyarakat tanpa disadari itu adalah refleksi dari living Qur’an.

Seperti kegiatan sadranan yang diisi dengan semaan al-Qur’an, tradisi tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari maupun seribu hari orang meninggal yang diperingati dengan mengisi bacaan-bacaan al-Qur’an. Termasuk tradisi mitoni, yang didalamnya terdapat bacaan surat-surat tertentu dari al-Qur’an. Tradisi mitoni yang merupakan budaya Jawa, oleh masyarakat Sumberjo dimasukkan unsur-unsur Islam yang berupa pembacaan ayat-ayat maupun surat-surat al-Qur’an. Mitoni atau biasa juga disebut dengan Tingkeban adalah ritual yang diselenggarakan pada bulan ketujuh masa kehamilan dan pada umumnya hanya dilakukan pada saat mengandung anak pertama. Ritual tersebut memohon keselamatan untuk ibu yang sedang mengandung dan juga calon bayi yang akan dilahirkan. 

Disamping itu, juga sebagai bentuk rasa syukur akan kehadiran calon penerus keluarga tersebut. Masyarakat Kadilangu adalah masyarakat yang beretnis Jawa. Sehingga kegiatan yang bercorak budaya Jawa masih terjaga dan dilestarikan seperti ngapati, selamatan, maupun tradisi-tradisi budaya Jawa yang lain termasuk mitoni. Berkembangnya pengetahuan tentang keagamaan di masyarakat Kadilangu, mengantarkan sebuah perubahan dalam tradisi mitoni. Perubahan ini tampak dari pelaksanaan upacara tradisi mitoni yang dilakukan sudah berbeda. Hal ini terlihat ketika diselenggarakanya upacara tradisi mitoni, yang di dalamnya terdapat bacaan surat-surat tertentu dari al-Qur’an. Masuknya bacaan al-Qur’an dalam tradisi mitoni mengakibatkan terjadinya akulturasi budaya. Budaya lama merupakan budaya Jawa yang dimasuki oleh budaya baru yakni Islam.

Unsur-unsur Islam yang masuk dalam tradisi mitoni, berupa pembacaan surat-surat tertentu pada saat upacara mitoni. Sedangkan unsur budaya Jawa masih tetap dilaksanaakan. Resepsi masyarakat Kadilangu terhadap al-Qur’an yang masuk pada sebuah tradisi mitoni, merupakan cara pandang masyarakatnya dalam meresepsi al-Qur’an dalam kehidupan mereka. Sehingga muncul berbagai macam resepsi masyarakat terhadap bacaan al-Qur’an tersebut. Kajian ini menjadi penting untuk diteliti dalam rangka mengetahui interaksi masyarakat muslim dengan al-Qur’an. oleh karena itu, studi living Qur’an dijadikan perangkat dalam mengkaji pembacaan al-Qur’an dalam pelaksanaan tradisi mitoni di desa Kadilangu sebagai budaya yang masih dilestarikan.


PEMBAHASAN

Tradisi Pembacaan Ayat

Pembacaan QS. Yusuf dan Maryam. Yang pertama, pembacaan surat Yusuf ini dihubungkan dengan figur Nabi Yusuf yang tampan dan saleh. Dengan membaca surat Yusuf, masyarakat memaknainya supaya anak yang lahir dapat mencontoh Yusuf dan perilakunya. Nabi Yusuf yang dikisahkan oleh Allah di dalam al-Qur’an

merupakan kisah yang paling baik, sebagaiman firman Allah dalam surat Yusuf ayat tiga:

“Kami menceritakan kepadamu (Nabi Muhammad saw.) kisah yang terbaik dengan mewahyukan kepadamu Al Quran ini kepadamu (Muhamad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesunnguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui”.

Mustofa Bisri menambahkan, Yusuf adalah salah satu dari utusan Allah yang mempunyai karakter baik. Ketabahannya saat dijeburkan ke dalam sumur oleh saudara kandungnya sendiri, dimasukkan penjara karena difitnah merupakan bentuk ketabahan yang tinggi dari seorang utusan Allah yang perlu dicontoh. Mustofa bisri melanjutkan dengan mengutip ayat dari surat yusuf: “Maka, ketika (wanita itu) mendengar maker (cercaan) mereka, (wanita-wanita itu), dia mengutus (seseorang membawa undangan) kepada mereka dan dan dia menyiapkan bagi mereka tempat duduk bersandar, dan memberikan kepada setiap orang dari mereka sebuah pisau (untuk memotong aneka makanan yang terhidang),dan dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (dan nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka ketika mereka melihatnya, mereka sangat kagum kepada (keelokan rupa dan penampilan) nya, dan mereka (wanita-wanita tanpa sadar) memotong (jari) tangan mereka seraya berkata : "Maha suci Allah,(yang aku lihat) ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain adalah Malaikat yang mulia."

Pembacaan surat yusuf ini, sebenarnya sebagai tafa’ul terhadap Nabi Yusuf. Ketampanan menurut masyarakat desa Kadilangu bukan sekedar rupawan melainkan lahir tanpa cacat fisik. Membaca surat Yusuf sebenarnya memohon kepada Allah supaya anaknya lahir dengan sempurna. Sebagaimana yang diungkapkan Ibu Sekar Wati dibacakan surat Yusuf dengan harapan agar anak yang dilahirkan sehat dan sempurna tanpa ada cacat di dalam fisiknya 

Kedua, surat Maryam. Masyarakat bukan hanya berharap agar anaknya lahir dengan sempurna, rupawan dan mempunyai perilaku baik, akan tetapi juga lahir dengan mudah. Oleh karena itu, membaca surat Maryam pada saat tradisi mitoni agar anak yang dikandung lahir dengan mudah. Siti Maryam adalah salah satu dari perempuan yang taat kepada Allah. Seluruh hidupnya diabdikan kepada Allah, sehingga ia diberikan kemuliaan menjadi perempuan yang suci. Selama hidupnya tidak pernah bersentuhan dengan seorang laki-laki, tetapi dengan kekuasaan Allah dia dapat mengandung anak yang kemudian menjadi rasul, yakni Nabi Isa. Dengan kekuasan-Nya, Siti Maryam melahirkan dengan mudah dan selamat tanpa bantuan orang lain. Dan dia salah satu perempuan yang taat kepada Allah.

Secara redaksi di dalam surat Maryam tidak ada keterangan lahir dengan mudah, tetapi secara substansi kisah pada waktu Maryam hendak melahirkan menunjukkan kekuasaan Tuhan, Maryam melahirkan Nabi Isa dengan gampang dan selamat. Sebagaimana firman Allah al-Qur’an surat Maryam ayat 22-26 yang berbunyi: 

“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, Dia berkata: "Aduhai, Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan". Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini".

Pelaksanan Tradisi

Setiap daerah mempunyai kekhasan dalam pelaksanaan tujuh bulanan bagi wanita yang sedang hamil. Tidak terkecuali bagi masyarakat Kadilangu yang mempunyai cara tersendiri dalam pelaksanaan tujuh bulanan. Prosesi tujuh bulanan di desa Kadilangu memerlukan tenaga, pikiran, maupun materi baik dalam persiapan maupun pada hari pelaksanaannya. Mulai dari Pemilihan hari dan tanggal yang tepat, prosesi acara ini diselenggarakan untuk kehamilan anak pertama dari pasangan suami istri, ketika kehamilannya sudah mencapai tujuh bulan.  Acara ini, bagi masyarakat Kadilangu bukan sekedar acara ritual yang hanya mengikuti leluhur saja, melainkan sebagai bentuk rasa syukur atas karunia yang diberikan Allah SWT kepadanya.

Selain itu juga, sebagai pengharapan maupun do’a agar ibu dan calon bayi yang dikandung tetap sehat. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Mustafa Bisri, acara tujuh bulanan yang dilakukan hanya sebagai perantara memohon kepada Allah untuk ibu yang sedang mengandung. Tujuannya supaya selamat, sehat dan ketika melahikan diberikan kelancaran tanpa ada halangan. Pembacaan dalam acara tujuh bulanan rangkaian acara pada prosesi tujuh bulanan adalah pembacaan surah Yusuf dan Maryam. Tata cara pembacaannya diantaranya:

Waktu dan Tempat

Waktu pembacaan dalam al-Quran masyarakat Kadilangu tidak ditetapkan secara khusus. Pembacaannya mengikuti waktu pelaksanaan,dan menyesuaikan dengan susunan acara. kebiasaan yang sudah dilakukan setelah shalat isya. Para pembaca ini biasanya masyarakat setempat. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibu Casnita yang melaksanakan tujuh bulanan pada tanggal 12 Juni 2021 dengan membaca al-Qur’an. Begitu juga dengan apa yang diungkapkan oleh Anisa salah satu masyarakat Kadilangu yang pernah melaksanakan acara tujuh bulanan dengan bacaan al-Qur’an. Dari hasil wawancara memberikan gambaran bahwa pembacaan dilaksanakan setelah isya’ sampai selesai. Mengenai tempat untuk membaca surah tersebut dilakukan di tempat yang mempunyai hajat. Dalam hal ini yang membaca adalah masyarakat setempat, dan hanya dua surah saja yang dibaca yakni Surah Yusuf dan Maryam.

Pemimpin memimpin pembacaan Al-Qur’an

Pemimpin setiap acara selamatan pembacaan al-Qur’an dalam acara tujuh bulanan adalah ustadz/ustadzah yang bisa menjadi pemimpin mendapat kepercayaan di masyarakat serta dianggap mempunyai pengetahuan dalam bidang Agama.

Prosesi Pembacaan Al-Qur’an

Prosesi Pembacaan al-Qur’an tahap pertama yang akan dilakukan setelah para undangan semua datang. Dalam pembacaan al-Qur’an terlebih dahulu dibuka dengan mukoddimah pembuka oleh Imam atau Pemimpin menjelaskan secara singkat tentang tujuh bulanan bagi orang yang hamil. Dalam mukoddimahnya juga menjelaskan tentang al-Qur’an dengan tujuh bulanan. Setelah itu, baru dimulai dengan pembagian surah-surah oleh pemimpin acara kepada para partisipan pembaca. Ragam surah yang dibaca dalam acara tujuh bulanan adalah surah yusuf dan maryam. kemudian pemimpin acara memulai dengan membaca wasilah.Wasilah pertama kepada Nabi Muhammad SAW, kemudian ditujukan kepada wanita yang sedang hamil dan janinnya. Setelah itu kemudian ustadz/ustadzah menegaskan bacaan. Setelah acara do’a selesai, dilanjutkan lagi istirahat. Penyelenggaraan mengeluarkan makanan yang berupa minuman teh dan beberapa aneka makanan yang disiapkan. Kemudian dilanjutkan dengan acara yang lain sampai pada acara penutupan.

Bentuk kegiatan

Yakni pembaca yang diundang langsung oleh penyelenggara. Pakaian yang dikenakan pada bentuk kegiatan pembaca adalah pakaian yang biasa dipakai dalam hajatan keagamaan, yakni baju yang sopan santun bagi warga yang ikut membaca. Kehadiran merupakan sesuatu yang biasa di masyarakat Kadilangu, sebagaimana ungkapan oleh salah satu warga, kedatangan para tetangga dalam acara tujuh bulan menjadi hal yang biasa. Para tetangga ikut membantu sedikit tidak ikut mendo’akan dan mencari berkah dari bacaan ayat suci al-Qur’an.


Kesimpulan

Dari penelitian tersebut sesuai dengan fokus penelitian maka dapat disimpulkan bahwa latar belakang dilaksanakannya pembacaan Surah Yusuf dan Maryam dalam tradisi mitoni di Desa Kadilangu yaitu sesuai dengan al-Qur’an Surah   tentang penciptaan manusia. Tradisi ini dilakukan ketika usia kandungan memasuki usia tujuh bulan. Selain berdo’a, dalam tradisi tersebut juga dilakukan sedekah dan juga pada acara ini dimaksudkan agar sang janin terbiasa mendengarkan kalam ilahi dan memberikan pendidikan sejak dalam kandungan. Dengan mengamalkan surat dan ayat al-Qur’an semenjak dalam kandungan, ibu juga telah mengajarkan nilai-nilai Islam (Qur’ani) dan pendalaman ke-Islaman kepada anaknya. Pemaknaan masyarakat terkait pembacaan tiga surat pilihan Petama Q.S Yusuf agar anak yang dikandung memiliki fisik yang sempurna (tidak cacat), dapat menjadi teladan yang baik dikemudian hari, Kedua Q.S Maryam agar anak yang dikandung dapat meniru kesabaran Siti Maryam, untuk ibu agar tidak dihantui rasa takut yang mencekam saat persalinan, dan dimudahkan saat persalinan.


Daftar Pustaka

Faizah. 2019. “Implementasi Pembacan Surah Yusuf dan Maryam Tradisi Orang Hamil Tujuh Bulan Desa Rantau Limau Manis Kecamatan Tabir Ilir Kbupaten Merangin” (Jambi: UIN Sunan Thaha Saifudin.

Fauzan, Muhammad. 2016. “Pembacan Tujuh Surat Pilihan Al-Qur’an Dalam Tradisi Mitoni (Kajian Living Al-Qur’an di Dusun Sumborejo, Desa Troso, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten)”, Skripsi IAIN Surakarta.

Rizem Aizid. 2015. “Mukjizat Surat Yusuf dan Maryam”. Yogyakarta: Saufa.

Septa Rani. 2019. “Pembacaan Tiga Surat Pilihan Dalam Tradisi Ngupatan (Studi Living Qur’an Pada Etnis Jawa di DesaPetrans Jaya Kecamatan Muara Kelingi Kabupaten Musi Rawas)”, Bengkulu: IAIN Bengkulu.

Suwardi Endaswara. 2005. Buku Pinter Budaya Jawa Mutiara Adiluhung Orang Jawa (Yogyakarta: Gelombang Pasang).

Zakiatun Fajri. 2020. “Praktik Pembacaan Surat Yusuf dan Maryam Dalam Masyarakat Gampong Lamdom Kecamatan Lueng Bata Kota Banda Aceh” (Banda Aceh: UIN Ar-Raniry Darussalam).

Selasa, 17 Desember 2019

SELFIE REMAJA BERHIJAB PADA MEDIA SOSIAL ANALISIS TEORI SIMULACRA JEAN BAUDRILLARD



SELFIE REMAJA BERHIJAB PADA MEDIA SOSIAL
ANALISIS TEORI SIMULACRA JEAN BAUDRILLARD
Oleh Muizatul Ulfa

I.          PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi  pada era globalisasi dan abad virtual sekarang ini mengalami peningkatan yang sangat pesat dari waktu ke waktu. Informasi baik penting atau tidak tentang suatu fenomena atau kejadian di belahan dunia manapun dapat diakses dengan mudah tanpa harus berada di tempat tersebut. Konsep sosial seperti integritas, nasionalisme, dan kesatuan semakin lama kehilangan realitasnya seiring perkembangan tersebut.. Dan akhirnya menggiring masyarakat global ke akhir sosial sebagai akibat modernisasi yang telah mencapai titik ekstrimnya atau bisa disebut dengan hipermodernisasi kontemporer. [1]
Salah satu teknologi yang sekarang berkembang dengan pesat adalah handphone. Yang pada zaman dahulu digunakan untuk berkomunikasi antara satu orang dengan orang lainnya, sekarang memiliki fungsi lain yaitu bisa digunakan untuk mengambil gambar karena sudah memiliki aplikasi kamera seperti pada kamera digital. Dan juga yang pada awalnya kamera handphone hanya ada di belakang layar sehingga jika kita ingin foto diri sendiri maka perlu bantuan orang lain untuk memotretnya. Tapi pada zaman sekarang sudah ada fitur kamera depan, dimana ketika kita ingin memfoto diri kita sendiri, kita tidak usah repot meminta bantuan orang lain, tapi bisa dengan cara mempotret diri sendiri. Proses mempotret diri sendiri ini dinamakan selfie. [2]
Dalam hal ini selfie merupakan hal yang sangat wajar bagi masyarakat umum. Karena selfie bukanlah hal yang melanggar hukum jika dilakukan dengan tepat. Tetapi disisi lain apakah wajar juga jika selfie idilakukan oleh perempuan berhijab? Dimana orang yang berhijab terkadang merupakan orang-orang yang ingin menjadikan dirinya sebagai seorang manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Dari hal tersebut, apa tujuan mereka memperlihatkan diri mereka secara tidak langsung kepada orang banyak dengan cara selfie kemudian diunggahnya pada media soisal? Kemudian pada makalah ini akan sedikit meneangkan tentang fenomena selfie perempuan berhijab pada media sosial dan analisisnya perspektif teori simulacra Jean Baudrillard.



II.       PEMBAHASAN
A.    Teori Simulacra Jean Baudrillard
Jean Baudrillard dalam bukunya yang berjudul Simulacra dan Simulations menyebut ciri khas masyarakat sekarang ini ditandai dengan suatu simulasi atau tiruan dari aslinya. Proses simulasi mengarah kepada penciptaan simulacra, yang merupakan dunia yang terbangun dari bercampurnya antara tanda, citra, nilai, fakta, dan kode. Simulacra ini merupakan tempat mekanisme simulasi berlangsung. Dalam konsep perkembangan virtual manusia dijebak dalam ruang realitas yang dianggapnya nyata padahal sesungguhnya semu dan penuh rekayasa. Dalam dunia simulasi, bukan realitas yang menjadi cermin kenyataan melainkan model-model. Sekarang teknologi bukan lagi sekedar perpanjangan tubuh atau sistem syaraf manusia. Namun mampu menciptakan realitas baru dengan citra buatan dan menyulap fantasi, ilusi, bahkan halusinasi menjadi kenyataan. Serta melipat realitas ke dalam sebuah flashdisk atau memory bank.
Realitas yang dihasilkan teknologi baru ini seperti internet, memory card, DVD, video games, prosesor komputer, telah mampu memproduksi realitas, dan masa lalu. Juga telah mengalahkan realitas yang sesungguhnya dan menjadi model acuan yang baru bagi masyarakat.[3] Alasan terpenting untuk penciptaan simulasi karena mereka dapat dibuat lebih spektakuler dari pada aslinya, oleh sebab itu dapat lebih menarik konsumen. Kehidupan modern ini dilukiskan oleh Baudrillard sebagai hiperrealitas. Contohnya media berhenti menjadi cerminan realitas, tetapi justru menjadi realitas itu sendiri. Bahkan lebih nyata dari pada realitas itu sendiri. Tabloid, surat kabar, yang memberitahukan sesuatu yang sedemikian populernya di TV setiap hari dijajakannya kepada pemirsa melebihi realitas. Distorsi dan kebohongan itu yang disebut dengan hiperrealitas.
 Di TV realitas-realitas baru diciptakan dengan ditayangkannya iklan-iklan sehingga membentuk sebuah realitas. Iklan yang menggunakan realitas untuk membentuk realitas yang baru yang sebenarnya tidak terlalu berhubungan dengan keadaan sebenarnya, namun karena iklan ditayangkan secara berulang-ulang maka realitas yang tidak berkaitan tersebut diterima sebagai realitas sesungguhnya.[4] Simulasi menutup kesadaran seseorang dalam tatanan kesadaran mengenai realitas yang sesungguhnya. Logika realitas yang sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan logika dalam simulasi. Kesadaran dalam bentuk simulasi merupakan kesadaran yang dihasilkan melalui realitas semu. Media sosial, media informasi menghasilkan pemaknaan dunia dalam simulasi berdasarkan realitas semu melalui citra-citra, tanda, dan kode.[5]

B.     Kilas Singkat Selfie
1.      Definisi Selfie dan Menurut Pandangan Islam
            Dalam bahasa Indonesia Selfie berarti swafoto, merupakan singkatan dari self  potrait yaitu foto yang diambil oleh diri sendiri. Gaya berfoto yang menampilkan bentuk diri kita baik itu wajah, tubuh, atau bagian tubuh lainnya. Dan setelah berselfie biasanya foto tersebut di unggah ke media sosial. Selfie tidak hanya menggunakan kamera handphone tetapi juga bisa menggunakan kamera digital. Pada era sekarang ini selfie sudah menjadi fenomena yang luar biasa karena menjadi kegiatan paling menarik yang dilakukan oleh kebanyakan orang khususnya bagi para perempuan. Dari kalangan perempuan yang tidak berhijab maupun orang yang berhijab juga tidak ingin ketinggalan dengan fenomena tersebut.[6]
Narsistik yang berada dalam selfie sendiri menjadikan seseorang begitu mengagumi dan mencintai dirinya sendiri daripada yang lainnya. Ia juga ingin selalu menjadi orang nomor satu tanpa ada seorang pun yang melebihinya. Seseorang ingin dianggap ada, terlihat bernilai, jika foto tersebut diupload ke media sosial. Terlebih lagi jika foto tersebut mendapat banyak like dan komentar positif, ia akan merasakan eksistensinya ada pada foto tersebut.
Dari pemaparan di atas, selfie dalam perspektif Islam dapat menimbulkan sifat berbangga diri (ujub), ingin diketahui orang lain (riya’), dan ingin dibesar-besarkan  atau terkenal (sum’ah). Rasulullah Saw bersabda,
ثلاث مهلكات : شخ مطاع ، وهوى متبع ، وإعجاب المرء بنفسه
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, yang berkecukupan, dan yang tidak menonjolkan diri.” (HR. Muslim dari Said al-Khudri)
Nafsu merupakan sumber dari penyakit, yang membahayakan dan pengakuan; riya’, sum’ah, ujub, tidak menjaga diri, lupa, dan lalai. Getaran hati karena nafsu muncul dari setan dan hawa nafsu, ia tidak mengandung sedikitpun cahaya. Sebaliknya, ia mengandung kekufuran, kegelapan, dan kesesatan karena keindahan yang menipu.[7]
2.      Kesaksian Selfie Perempuan Berhijab
Melalui kecanggihan media sosial sekaarang ini seseorang dapat menginformasikan hal yang bahkan sangat pribadi atau bisa juga umumdengan temannya yang juga memiliki media sosial. Dengan tujuan untuk mengetahui berita-berita terbaru. Dapat pula mengirimkan sebuah file tugas kuliah yang penting. Dan juga pesan yang meghibur seperti lagu, video, ataupun stiker lucu yang terdapat pada aplikasi dalam media sosial. Berikut kesaksian dari para informan:
a.     Kisah Informan Shasa
Shasa sekarang berusia 24 tahun, ia merupakan mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya. Shasa merupakan asli anak Nganjuk. Shasa memakai hijab biasa supaya tidak terlihat auratnya. Tetapi semenjak awal masuk kuliah ia memulai memakai hijab syar’i. Perubahan model tersebut sangat berpengaruh terhadap sikapnya, yang dulunya suka tertawa di jalan tanpa terkontrol sekarang menjadikan ia menjaga untuk tetap sopan. Tetapi hal tersebut tidak menghalanginya untuk tidak selfie, karena ia suka sekali selfie. Setiap kali ia selfie pasti akan di unggah tetapi dicari foto yang paling bagus terlebih dahulu, karena itu bisa membuatnya lebih percaya diri.
Dulu ia melakukan selfie hanya untuk kesenangan semata, dan untuk mendapatkan like. Tetapi untuk sekarang ini ia melakukan selfie untuk berjualan online. Keuntungan yang didapat dari selfie untuk mengekspresikan diri dan bisa dikenal banyak orang. Tetapi untuk sekarang keuntungannya yaitu narsis sama dengan closing penjualan. Karena berjualan sebuah produk dengan model kita sendiri akan lebih dipercaya oleh konsumen. Menurutnya selama foto tersebut tidak berlebihan maka itu tidak akan menjadi suatu masalah.[8]

C.     Analisis Terhadap Selfie Perempuan Berhijab
1.      Fenomena Selfie Perempuan Berhijab di Mata Publik
Perempuan sangat identik dengan kecntikan dan keanggunan. Dari masa ke masa konsep tentang cantik selalu mengalami perubahan. Jika dulu cantik terdapat pada perempuan yang tidak memakai hijab, tetapi pada masa sekarang perempuan memakai hijab pun berkontribui mengenai kecantikan. Karena pada setiap media sosial, banyak terdapat gambar maupun video yang memperlihatkan perempuan memakai hijab.
Hijab saat ini tidak lagi menjadi simbol bahwa ia merupakan seorang muslim tetapi juga sudah berubah menjadi sebuah gaya hidup bagi pemakaiannya. Melihat perempuan berhijab saat ini bahwa mereka ingin mengaplikasikan dan memadukan antara agama dan gaya hidup pada diri mereka. Karena dapat dilihat mulai dari mall, cafe, atau tempat-tempat nongkrong lainnya, bahkan pada media sosial yang merupakan dunia maya yang ada di dalamnya. Berbeda sekali dengan perempuan berhijab zaman dahulu yang terkesan kuno dan tidak menarik.
Hadirnya internet tersebut menjadikan perempuan berhijab semakin ingin menunjukkan eksistensinya pada masyarakat luas. Terutama dalam mengunggah foto selfie di setiap akun media sosial, seperti whatsapp, facebook, dan instagram. Hal tersebut hampir setiap hari dengan menunjukkan penampilan yang sempurna seperti cantik, anggun, dan indah menurutnya. Bertujuan supaya setiap orang dapat melihatnya berubah, baik itu cantik atau tidak, bermanfaat atau tidak.
Selfie bagi perempuan berhijab kemudian diunggah ke media sosial, merupakan hal yang mendapatkan banyak penadangan dari masyarakat luas. Ada yang berpandangan bahwa hal tersebut wajar jika tujuannya untuk kebaikan seperti berjualan baju, kerudung, atau lainnya. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang banyak menimbulkan hal negatif, seperti penculikan, kejahatan seksual, dan lain sebagainya.
Sehingga kembali lagi kepada para perempuan yang mengunggah foto-foto selfie mereka. Jika mereka memakai hijab hanya untuk menutupi aurat dan tidak diikuti dengan perubahan sikap mereka, menjadikan mereka kurang sempurna dalam mengaplikasikan hijab tersebut. Tetapi jika mereka memakai hijab dengan cara menjaga untuk tidak mengunggah secara berlebihan ke media sosial, menjadkan mereka sempurna dalam menjalankan perintah Allah.  Kecuali mereka memang memiliki usaha seperti berdagang baju, kerudung, dan lain sebagainya.[9]

2.      Selfie Perempuan Berhijab Perspektif Simulacra Jean Baudrillard
Jean Baudrillard menyatakan bahwa ada tiga orde simulacra, pertama orde yang menjelaskan tentang nilai hukum alam, kedua orde yang menjelaskan dalam lingkup nilai hukum pasar, keiga orde pada ruang lingkup nilai hukum struktural dimana tanda membentuk struktur dan memberikan arti sebuah kenyataan yang berlebihan.
Adanya orde tersbut dapat disimpulkan bahwa perempuan berhijab yang dahulunya hanya fokus pada hijab dan agamanya, sekarang bergeser menjadi konsumsi publik tanpa terhalang apapun. Khususnya bagi perempuan berhijab yang berjualan online seperti pakaian, make up, yang sebisa mungkin menunjukkan salah satu dari tubuhnya untuk memberikan rasa percaya diri bagi konsumen. Perkembangan teknologi tersebut yang mebuat tanda dan citra budaya tidak lagi berada pada ruang kenyataan. Menjadikannya bercampur menjadi satu tanpa ada batasan-batasan dalam menampilkan sesuatu.[10]
Fenomena selfie pada perempuan berhijab yang kemudian mereka unggah pada akun media sosial, yang merupakan awalnya berupa representasi dari ruang nyata menjadikannya sebuah realitas tersendiri. Karena sebelum mengunggah mereka memilih salah satu foto yang bagus dan menarik untuk dilihat oleh mata luas. Padahal dari sekian banyak foto tidak semua foto tersebut bagus, melainkan ada juga yang jelek. Sehingga mereka secara tidak langsung membohongi setiap mata yang melihat. Ditambah dengan adanya fitur aplikasi untuk mempercantik wajah semakin menjadikannya menarik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penjjelasan di atas merupakan produk realitas buatan atau hiperrealitas.
Meski tidak semua perempuan suka dengan selfie, tetapi tidak sedikit pula yang gemar dalam selfie bahkan tidak segan untuk mengunggah pada setiap momen di media sosial mereka. Sehingga kecanggihan media sosial ini menimbulkan para perempuan yang menjadi pengguna terbanyak demi memuaskan hawa nafsunya, tanpa sadar sudah masuk ke dalam dunia hiperrealitas. Secara tidak langsung ia telah masuk dan menjadi seorang individu yang terjebak dalam dunia semu.
Selfie sudah seperti kegiatan olahraga yang harus dilakukan setiap harinya. Sehingga seperti yang diungkapkan Baudrillard dimana suatu dunia hipeeal merupakan situasi yang tidak ada lagi pembatas antara dunia nyata dan dunia imajinasi. Dalam perkembangannya yang menjadikan dunia media soisal sangat digemari yakni dengan adanya artis-artis yang menjadi contoh bagi penggemarnya sehingga mengikutinya.
Media massa menjadi penyebab utama adanya hiperrealitas kesenangan. Media massa telah memberikan tayangan berupa simulasi yang tidak lagi bersifat rahasia dan tanpa adanya batasan yang jelas antara relaitas dan hiperrealitas. Hal tersebut yang mengubah pemikiran masyarakat dan cara bersosialisasi mereka. Sehingga melakukan sesuatu hal yang melanggar batasan moral termasuk hal yang wajar. Sehingga dapat membahayakan perkembangan bagi generasi selanjutnya yang masih mencari tentang makna-makna kehifupan dengan nilai-nilai moral di dalamnya. Dengan begitu perlu pembimbing dan kontrol sosial atas berkembangnya citra negatif pada dunia hiperrealitas. Hal tersebut sebenarnya dari diri kita sendirilah yang bisa mengontrol dan membimbing hawa nafsu kita supaya tidak masuk pada dunia hiperrealitas lebih jauh.[11]

D.       KESIMPULAN
Fenomena selfie sekarang ini merupakan kegiatan yang tidak bisa dilepaskan dari masyarakat luas, termasuk perempuan berhijab. Dimana pada dasarnya mereka berhijab ingin menjadi seseorang yang lebih baik lagi tetapi tetap melakukan selfie. Hal tersebut menurut pandangan mereka, berhijab tidak membatasinya untuk melakukan selfie dan mengunggahnya pada media sosial. Karena menurut mereka kegiatan tersebut membuatnya menjadi lebih mudah dalam melakukan dakwah. Dengan cara melalui foto selfie kemudian ditambahi caption dalam unggahannya seperti ayat-ayat Al-Qur’an dengan terjemahannya, kata-kata motivasi, dan lain sebagainya. Juga bisa mempermudah untuk berdagang melalui unggahan selfienya. Hal tersebut mebuat mereka semakin percaya diri bahwa yang dilakukan itu baik aslakan masih pada batas yang wajar.
Jean Baudrillard menyatakan bahwa terjadi pergeseran makna dari hijab yang merupakan syariat menjadi gaya hidup. Dan dalam selfie tersebut apa yang mereka unggah bukan berarti itu yang nyata dari mereka, dan itu yang dinamakan kode struktural. Hal tersebut membuatnya berada pada ruang simulasi, dimana yang nyata dan imajinasi sudah tidak dapat dibedakan lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Aginta Hidayat, Medhy. 2017, Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard, Yogyakarta: Jalasutra

Heldi. 2009,  Perilaku Konsumtif Masyarakat Modern, Bandung: Jurnal Al-Iqtishad

Heryanto, Ariel. 2017, Postmodernisme, Jakarta: Jurnal Kebudayaan

Lela Nur Insani, Laela. 2017. Perilaku Konsumtif Mahasiswa di Kampus II UIN Alauddin Samata Gowa, Makassar: UIN Alauddin

Ma’rifatul Hanik, Gayu. 2019, Selfie Perempuan Berhijab Pada Media Sosial Analisis Simulacra Jean Baudrillard, Surabaya: UIN Sunan Ampel

Marta Almas, Dinda. 2018,  Mahasiswa dan Instagram, Surabaya: Jurnal S1 Sosiologi FISIP Universitas Airlangga

Mukaromah, Haniatul. 2015, Mayarakat Hiperreality, Purwokerto: IAIN Purwokerto

Murtiningsih, Siti. 2013, Problem Pendidikan Video Games Dalam Perspektif Teori Simulacra Jean Baudrillard, Yogyakarta: Jurnal Ilmu Pendidikan

Noviani, Ratna. 2019, Fenomena Selfie Masyarakat Konsumtif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Starigo Nursihka, Envoy. 2014, Hijabers Surabaya Sebagai Icon Fashion Muslim, Malang: Jurnal Ilmiah



[1] Gayu Ma’rifatul Hanik, Selfie Perempuan Berhijab Pada Media Sosial Analisis Simulacra Jean Baudrillard, (Surabaya: UIN Sunan Ampel, 2019), hlm. 8-9
[2] Haniatul Mukaromah, Mayarakat Hiperreality, (Purwokerto: IAIN Purwokerto, 2015), hlm. 12
[3] Siti Murtiningsih, Problem Pendidikan Video Games Dalam Perspektif Teori Simulacra Jean Baudrillard, (Yogyakarta: Jurnal Ilmu Pendidikan, 2013), hlm. 82
[4] Lela Nur Insani, Perilaku Konsumtif Mahasiswa di Kampus II UIN Alauddin Samata Gowa, (Makassar: UIN Alauddin, 2017), hlm. 18-19
[5] Envoy Starigo Nursihka, Hijabers Surabaya Sebagai Icon Fashion Muslim, (Malang: Jurnal Ilmiah, 2014), hlm. 6-7
[6] Gayu Ma’rifatul Hanik, Selfie Perempuan Berhijab Pada Media Sosial Analisis Simulacra Jean Baudrillard, (Surabaya: UIN Sunan Ampel, 2019), hlm. 24-27
[7] Dinda Marta Almas, Mahasiswa dan Instagram, (Surabaya: Jurnal S1 Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, 2018), hlm. 35
[8] Heldi, Perilaku Konsumtif Masyarakat Modern, (Bandung: Jurnal Al-Iqtishad, 2009), hlm. 18
[9] Ariel Heryanto, Postmodernisme, (Jakarta: Jurnal Kebudayaan, 2017), hlm. 80-82
[10] Medhy Aginta Hidayat, Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard, (Yogyakarta: Jalasutra, 2017), hlm. 42-48
[11] Ratna Noviani, Fenomena Selfie Masyarakat Konsumtif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2019), hlm. 95-101

Pembacaan Surat Maryam dan Yasin Dalam Tradisi Mitoni

 PEMBACAAN SURAT MARYAM DAN YUSUF DALAM TRADISI MITONI (Kajian Living al-Qur’an di Desa Kadilangu, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang) Muiza...