PEMBACAAN SURAT MARYAM DAN YUSUF DALAM
TRADISI MITONI
(Kajian Living al-Qur’an di Desa Kadilangu, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang)
Muizatul Ulfa (3118026)
Institute Agama Islam Negeri Pekalongan
Alamat : Jl. Kusuma Bangsa No. 09. Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Al-Qur'an sebagai kitab suci umat Islam, dipandang dan diyakini memiliki pengaruh yang sangat besar dalam jiwa dan perilaku manusia. Kesucian dan keagungan al-Qur'an menjadikan masyarakat Muslim memperlakukannya sebagai kitab suci dan meresepsi dengan banyak hal yang berkaitan dengannya. Studi mengenai living Qur’an dengan mempelajari kehadiran al-Qur’an dalam fenomena-fenomena dari gejala sosial yang tumbuh di dalam masyarakat. Perbedaan letak geografis ataupun masa yang berbeda mempengaruhi cara pandang terhadap al-Qur’an. Dengan mempelajari living Qur’an, akan dijumpai kesadaran masyarakat Islam terhadap ajaran agamanya. Sebagai contoh, banyak dijumpai kegiatan-kegiatan keagamaan dalam masyarakat tanpa disadari itu adalah refleksi dari living Qur’an.
Seperti kegiatan sadranan yang diisi dengan semaan al-Qur’an, tradisi tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari maupun seribu hari orang meninggal yang diperingati dengan mengisi bacaan-bacaan al-Qur’an. Termasuk tradisi mitoni, yang didalamnya terdapat bacaan surat-surat tertentu dari al-Qur’an. Tradisi mitoni yang merupakan budaya Jawa, oleh masyarakat Sumberjo dimasukkan unsur-unsur Islam yang berupa pembacaan ayat-ayat maupun surat-surat al-Qur’an. Mitoni atau biasa juga disebut dengan Tingkeban adalah ritual yang diselenggarakan pada bulan ketujuh masa kehamilan dan pada umumnya hanya dilakukan pada saat mengandung anak pertama. Ritual tersebut memohon keselamatan untuk ibu yang sedang mengandung dan juga calon bayi yang akan dilahirkan.
Disamping itu, juga sebagai bentuk rasa syukur akan kehadiran calon penerus keluarga tersebut. Masyarakat Kadilangu adalah masyarakat yang beretnis Jawa. Sehingga kegiatan yang bercorak budaya Jawa masih terjaga dan dilestarikan seperti ngapati, selamatan, maupun tradisi-tradisi budaya Jawa yang lain termasuk mitoni. Berkembangnya pengetahuan tentang keagamaan di masyarakat Kadilangu, mengantarkan sebuah perubahan dalam tradisi mitoni. Perubahan ini tampak dari pelaksanaan upacara tradisi mitoni yang dilakukan sudah berbeda. Hal ini terlihat ketika diselenggarakanya upacara tradisi mitoni, yang di dalamnya terdapat bacaan surat-surat tertentu dari al-Qur’an. Masuknya bacaan al-Qur’an dalam tradisi mitoni mengakibatkan terjadinya akulturasi budaya. Budaya lama merupakan budaya Jawa yang dimasuki oleh budaya baru yakni Islam.
Unsur-unsur Islam yang masuk dalam tradisi mitoni, berupa pembacaan surat-surat tertentu pada saat upacara mitoni. Sedangkan unsur budaya Jawa masih tetap dilaksanaakan. Resepsi masyarakat Kadilangu terhadap al-Qur’an yang masuk pada sebuah tradisi mitoni, merupakan cara pandang masyarakatnya dalam meresepsi al-Qur’an dalam kehidupan mereka. Sehingga muncul berbagai macam resepsi masyarakat terhadap bacaan al-Qur’an tersebut. Kajian ini menjadi penting untuk diteliti dalam rangka mengetahui interaksi masyarakat muslim dengan al-Qur’an. oleh karena itu, studi living Qur’an dijadikan perangkat dalam mengkaji pembacaan al-Qur’an dalam pelaksanaan tradisi mitoni di desa Kadilangu sebagai budaya yang masih dilestarikan.
PEMBAHASAN
Tradisi Pembacaan Ayat
Pembacaan QS. Yusuf dan Maryam. Yang pertama, pembacaan surat Yusuf ini dihubungkan dengan figur Nabi Yusuf yang tampan dan saleh. Dengan membaca surat Yusuf, masyarakat memaknainya supaya anak yang lahir dapat mencontoh Yusuf dan perilakunya. Nabi Yusuf yang dikisahkan oleh Allah di dalam al-Qur’an
merupakan kisah yang paling baik, sebagaiman firman Allah dalam surat Yusuf ayat tiga:
“Kami menceritakan kepadamu (Nabi Muhammad saw.) kisah yang terbaik dengan mewahyukan kepadamu Al Quran ini kepadamu (Muhamad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesunnguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui”.
Mustofa Bisri menambahkan, Yusuf adalah salah satu dari utusan Allah yang mempunyai karakter baik. Ketabahannya saat dijeburkan ke dalam sumur oleh saudara kandungnya sendiri, dimasukkan penjara karena difitnah merupakan bentuk ketabahan yang tinggi dari seorang utusan Allah yang perlu dicontoh. Mustofa bisri melanjutkan dengan mengutip ayat dari surat yusuf: “Maka, ketika (wanita itu) mendengar maker (cercaan) mereka, (wanita-wanita itu), dia mengutus (seseorang membawa undangan) kepada mereka dan dan dia menyiapkan bagi mereka tempat duduk bersandar, dan memberikan kepada setiap orang dari mereka sebuah pisau (untuk memotong aneka makanan yang terhidang),dan dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (dan nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka ketika mereka melihatnya, mereka sangat kagum kepada (keelokan rupa dan penampilan) nya, dan mereka (wanita-wanita tanpa sadar) memotong (jari) tangan mereka seraya berkata : "Maha suci Allah,(yang aku lihat) ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain adalah Malaikat yang mulia."
Pembacaan surat yusuf ini, sebenarnya sebagai tafa’ul terhadap Nabi Yusuf. Ketampanan menurut masyarakat desa Kadilangu bukan sekedar rupawan melainkan lahir tanpa cacat fisik. Membaca surat Yusuf sebenarnya memohon kepada Allah supaya anaknya lahir dengan sempurna. Sebagaimana yang diungkapkan Ibu Sekar Wati dibacakan surat Yusuf dengan harapan agar anak yang dilahirkan sehat dan sempurna tanpa ada cacat di dalam fisiknya
Kedua, surat Maryam. Masyarakat bukan hanya berharap agar anaknya lahir dengan sempurna, rupawan dan mempunyai perilaku baik, akan tetapi juga lahir dengan mudah. Oleh karena itu, membaca surat Maryam pada saat tradisi mitoni agar anak yang dikandung lahir dengan mudah. Siti Maryam adalah salah satu dari perempuan yang taat kepada Allah. Seluruh hidupnya diabdikan kepada Allah, sehingga ia diberikan kemuliaan menjadi perempuan yang suci. Selama hidupnya tidak pernah bersentuhan dengan seorang laki-laki, tetapi dengan kekuasaan Allah dia dapat mengandung anak yang kemudian menjadi rasul, yakni Nabi Isa. Dengan kekuasan-Nya, Siti Maryam melahirkan dengan mudah dan selamat tanpa bantuan orang lain. Dan dia salah satu perempuan yang taat kepada Allah.
Secara redaksi di dalam surat Maryam tidak ada keterangan lahir dengan mudah, tetapi secara substansi kisah pada waktu Maryam hendak melahirkan menunjukkan kekuasaan Tuhan, Maryam melahirkan Nabi Isa dengan gampang dan selamat. Sebagaimana firman Allah al-Qur’an surat Maryam ayat 22-26 yang berbunyi:
“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, Dia berkata: "Aduhai, Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan". Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini".
Pelaksanan Tradisi
Setiap daerah mempunyai kekhasan dalam pelaksanaan tujuh bulanan bagi wanita yang sedang hamil. Tidak terkecuali bagi masyarakat Kadilangu yang mempunyai cara tersendiri dalam pelaksanaan tujuh bulanan. Prosesi tujuh bulanan di desa Kadilangu memerlukan tenaga, pikiran, maupun materi baik dalam persiapan maupun pada hari pelaksanaannya. Mulai dari Pemilihan hari dan tanggal yang tepat, prosesi acara ini diselenggarakan untuk kehamilan anak pertama dari pasangan suami istri, ketika kehamilannya sudah mencapai tujuh bulan. Acara ini, bagi masyarakat Kadilangu bukan sekedar acara ritual yang hanya mengikuti leluhur saja, melainkan sebagai bentuk rasa syukur atas karunia yang diberikan Allah SWT kepadanya.
Selain itu juga, sebagai pengharapan maupun do’a agar ibu dan calon bayi yang dikandung tetap sehat. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Mustafa Bisri, acara tujuh bulanan yang dilakukan hanya sebagai perantara memohon kepada Allah untuk ibu yang sedang mengandung. Tujuannya supaya selamat, sehat dan ketika melahikan diberikan kelancaran tanpa ada halangan. Pembacaan dalam acara tujuh bulanan rangkaian acara pada prosesi tujuh bulanan adalah pembacaan surah Yusuf dan Maryam. Tata cara pembacaannya diantaranya:
Waktu dan Tempat
Waktu pembacaan dalam al-Quran masyarakat Kadilangu tidak ditetapkan secara khusus. Pembacaannya mengikuti waktu pelaksanaan,dan menyesuaikan dengan susunan acara. kebiasaan yang sudah dilakukan setelah shalat isya. Para pembaca ini biasanya masyarakat setempat. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibu Casnita yang melaksanakan tujuh bulanan pada tanggal 12 Juni 2021 dengan membaca al-Qur’an. Begitu juga dengan apa yang diungkapkan oleh Anisa salah satu masyarakat Kadilangu yang pernah melaksanakan acara tujuh bulanan dengan bacaan al-Qur’an. Dari hasil wawancara memberikan gambaran bahwa pembacaan dilaksanakan setelah isya’ sampai selesai. Mengenai tempat untuk membaca surah tersebut dilakukan di tempat yang mempunyai hajat. Dalam hal ini yang membaca adalah masyarakat setempat, dan hanya dua surah saja yang dibaca yakni Surah Yusuf dan Maryam.
Pemimpin memimpin pembacaan Al-Qur’an
Pemimpin setiap acara selamatan pembacaan al-Qur’an dalam acara tujuh bulanan adalah ustadz/ustadzah yang bisa menjadi pemimpin mendapat kepercayaan di masyarakat serta dianggap mempunyai pengetahuan dalam bidang Agama.
Prosesi Pembacaan Al-Qur’an
Prosesi Pembacaan al-Qur’an tahap pertama yang akan dilakukan setelah para undangan semua datang. Dalam pembacaan al-Qur’an terlebih dahulu dibuka dengan mukoddimah pembuka oleh Imam atau Pemimpin menjelaskan secara singkat tentang tujuh bulanan bagi orang yang hamil. Dalam mukoddimahnya juga menjelaskan tentang al-Qur’an dengan tujuh bulanan. Setelah itu, baru dimulai dengan pembagian surah-surah oleh pemimpin acara kepada para partisipan pembaca. Ragam surah yang dibaca dalam acara tujuh bulanan adalah surah yusuf dan maryam. kemudian pemimpin acara memulai dengan membaca wasilah.Wasilah pertama kepada Nabi Muhammad SAW, kemudian ditujukan kepada wanita yang sedang hamil dan janinnya. Setelah itu kemudian ustadz/ustadzah menegaskan bacaan. Setelah acara do’a selesai, dilanjutkan lagi istirahat. Penyelenggaraan mengeluarkan makanan yang berupa minuman teh dan beberapa aneka makanan yang disiapkan. Kemudian dilanjutkan dengan acara yang lain sampai pada acara penutupan.
Bentuk kegiatan
Yakni pembaca yang diundang langsung oleh penyelenggara. Pakaian yang dikenakan pada bentuk kegiatan pembaca adalah pakaian yang biasa dipakai dalam hajatan keagamaan, yakni baju yang sopan santun bagi warga yang ikut membaca. Kehadiran merupakan sesuatu yang biasa di masyarakat Kadilangu, sebagaimana ungkapan oleh salah satu warga, kedatangan para tetangga dalam acara tujuh bulan menjadi hal yang biasa. Para tetangga ikut membantu sedikit tidak ikut mendo’akan dan mencari berkah dari bacaan ayat suci al-Qur’an.
Kesimpulan
Dari penelitian tersebut sesuai dengan fokus penelitian maka dapat disimpulkan bahwa latar belakang dilaksanakannya pembacaan Surah Yusuf dan Maryam dalam tradisi mitoni di Desa Kadilangu yaitu sesuai dengan al-Qur’an Surah tentang penciptaan manusia. Tradisi ini dilakukan ketika usia kandungan memasuki usia tujuh bulan. Selain berdo’a, dalam tradisi tersebut juga dilakukan sedekah dan juga pada acara ini dimaksudkan agar sang janin terbiasa mendengarkan kalam ilahi dan memberikan pendidikan sejak dalam kandungan. Dengan mengamalkan surat dan ayat al-Qur’an semenjak dalam kandungan, ibu juga telah mengajarkan nilai-nilai Islam (Qur’ani) dan pendalaman ke-Islaman kepada anaknya. Pemaknaan masyarakat terkait pembacaan tiga surat pilihan Petama Q.S Yusuf agar anak yang dikandung memiliki fisik yang sempurna (tidak cacat), dapat menjadi teladan yang baik dikemudian hari, Kedua Q.S Maryam agar anak yang dikandung dapat meniru kesabaran Siti Maryam, untuk ibu agar tidak dihantui rasa takut yang mencekam saat persalinan, dan dimudahkan saat persalinan.
Daftar Pustaka
Faizah. 2019. “Implementasi Pembacan Surah Yusuf dan Maryam Tradisi Orang Hamil Tujuh Bulan Desa Rantau Limau Manis Kecamatan Tabir Ilir Kbupaten Merangin” (Jambi: UIN Sunan Thaha Saifudin.
Fauzan, Muhammad. 2016. “Pembacan Tujuh Surat Pilihan Al-Qur’an Dalam Tradisi Mitoni (Kajian Living Al-Qur’an di Dusun Sumborejo, Desa Troso, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten)”, Skripsi IAIN Surakarta.
Rizem Aizid. 2015. “Mukjizat Surat Yusuf dan Maryam”. Yogyakarta: Saufa.
Septa Rani. 2019. “Pembacaan Tiga Surat Pilihan Dalam Tradisi Ngupatan (Studi Living Qur’an Pada Etnis Jawa di DesaPetrans Jaya Kecamatan Muara Kelingi Kabupaten Musi Rawas)”, Bengkulu: IAIN Bengkulu.
Suwardi Endaswara. 2005. Buku Pinter Budaya Jawa Mutiara Adiluhung Orang Jawa (Yogyakarta: Gelombang Pasang).
Zakiatun Fajri. 2020. “Praktik Pembacaan Surat Yusuf dan Maryam Dalam Masyarakat Gampong Lamdom Kecamatan Lueng Bata Kota Banda Aceh” (Banda Aceh: UIN Ar-Raniry Darussalam).