SELFIE REMAJA BERHIJAB
PADA MEDIA SOSIAL
ANALISIS TEORI SIMULACRA JEAN BAUDRILLARD
Oleh Muizatul Ulfa
I.
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi pada era globalisasi dan abad virtual
sekarang ini mengalami peningkatan yang sangat pesat dari waktu ke waktu.
Informasi baik penting atau tidak tentang suatu fenomena atau kejadian di
belahan dunia manapun dapat diakses dengan mudah tanpa harus berada di tempat
tersebut. Konsep sosial seperti integritas, nasionalisme, dan kesatuan semakin
lama kehilangan realitasnya seiring perkembangan tersebut.. Dan akhirnya
menggiring masyarakat global ke akhir sosial sebagai akibat modernisasi yang
telah mencapai titik ekstrimnya atau bisa disebut dengan hipermodernisasi
kontemporer. [1]
Salah satu teknologi yang sekarang berkembang dengan pesat adalah handphone.
Yang pada zaman dahulu digunakan untuk berkomunikasi antara satu orang dengan
orang lainnya, sekarang memiliki fungsi lain yaitu bisa digunakan untuk
mengambil gambar karena sudah memiliki aplikasi kamera seperti pada kamera
digital. Dan juga yang pada awalnya kamera handphone hanya ada di
belakang layar sehingga jika kita ingin foto diri sendiri maka perlu bantuan
orang lain untuk memotretnya. Tapi pada zaman sekarang sudah ada fitur kamera
depan, dimana ketika kita ingin memfoto diri kita sendiri, kita tidak usah
repot meminta bantuan orang lain, tapi bisa dengan cara mempotret diri sendiri.
Proses mempotret diri sendiri ini dinamakan selfie. [2]
Dalam hal ini selfie merupakan hal yang sangat wajar bagi
masyarakat umum. Karena selfie bukanlah hal yang melanggar hukum jika
dilakukan dengan tepat. Tetapi disisi lain apakah wajar juga jika selfie
idilakukan oleh perempuan berhijab? Dimana orang yang berhijab terkadang
merupakan orang-orang yang ingin menjadikan dirinya sebagai seorang manusia
yang lebih baik dari sebelumnya. Dari hal tersebut, apa tujuan mereka memperlihatkan
diri mereka secara tidak langsung kepada orang banyak dengan cara selfie kemudian
diunggahnya pada media soisal? Kemudian pada makalah ini akan sedikit
meneangkan tentang fenomena selfie perempuan berhijab pada media sosial
dan analisisnya perspektif teori simulacra Jean Baudrillard.
II.
PEMBAHASAN
A.
Teori
Simulacra Jean Baudrillard
Jean
Baudrillard dalam bukunya yang berjudul Simulacra dan Simulations
menyebut ciri khas masyarakat sekarang ini ditandai dengan suatu simulasi atau
tiruan dari aslinya. Proses simulasi mengarah kepada penciptaan simulacra,
yang merupakan dunia yang terbangun dari bercampurnya antara tanda, citra,
nilai, fakta, dan kode. Simulacra ini merupakan tempat mekanisme simulasi
berlangsung. Dalam konsep perkembangan virtual manusia dijebak dalam ruang
realitas yang dianggapnya nyata padahal sesungguhnya semu dan penuh rekayasa.
Dalam dunia simulasi, bukan realitas yang menjadi cermin kenyataan melainkan
model-model. Sekarang teknologi bukan lagi sekedar perpanjangan tubuh atau
sistem syaraf manusia. Namun mampu menciptakan realitas baru dengan citra
buatan dan menyulap fantasi, ilusi, bahkan halusinasi menjadi kenyataan. Serta
melipat realitas ke dalam sebuah flashdisk atau memory bank.
Realitas
yang dihasilkan teknologi baru ini seperti internet, memory card, DVD,
video games, prosesor komputer, telah mampu memproduksi realitas, dan masa
lalu. Juga telah mengalahkan realitas yang sesungguhnya dan menjadi model acuan
yang baru bagi masyarakat.[3]
Alasan terpenting untuk penciptaan simulasi karena mereka dapat dibuat lebih
spektakuler dari pada aslinya, oleh sebab itu dapat lebih menarik konsumen.
Kehidupan modern ini dilukiskan oleh Baudrillard sebagai hiperrealitas.
Contohnya media berhenti menjadi cerminan realitas, tetapi justru menjadi
realitas itu sendiri. Bahkan lebih nyata dari pada realitas itu sendiri.
Tabloid, surat kabar, yang memberitahukan sesuatu yang sedemikian populernya di
TV setiap hari dijajakannya kepada pemirsa melebihi realitas. Distorsi dan
kebohongan itu yang disebut dengan hiperrealitas.
Di TV realitas-realitas baru diciptakan dengan
ditayangkannya iklan-iklan sehingga membentuk sebuah realitas. Iklan yang
menggunakan realitas untuk membentuk realitas yang baru yang sebenarnya tidak
terlalu berhubungan dengan keadaan sebenarnya, namun karena iklan ditayangkan
secara berulang-ulang maka realitas yang tidak berkaitan tersebut diterima
sebagai realitas sesungguhnya.[4]
Simulasi menutup kesadaran seseorang dalam tatanan kesadaran mengenai realitas
yang sesungguhnya. Logika realitas yang sebenarnya tidak memiliki hubungan
dengan logika dalam simulasi. Kesadaran dalam bentuk simulasi merupakan
kesadaran yang dihasilkan melalui realitas semu. Media sosial, media informasi
menghasilkan pemaknaan dunia dalam simulasi berdasarkan realitas semu melalui
citra-citra, tanda, dan kode.[5]
B.
Kilas
Singkat Selfie
1.
Definisi
Selfie dan Menurut Pandangan Islam
Dalam bahasa
Indonesia Selfie berarti swafoto, merupakan singkatan dari self potrait yaitu foto yang diambil oleh diri
sendiri. Gaya berfoto yang menampilkan bentuk diri kita baik itu wajah, tubuh,
atau bagian tubuh lainnya. Dan setelah berselfie biasanya foto tersebut di
unggah ke media sosial. Selfie tidak hanya menggunakan kamera handphone
tetapi juga bisa menggunakan kamera digital. Pada era sekarang ini selfie
sudah menjadi fenomena yang luar biasa karena menjadi kegiatan paling
menarik yang dilakukan oleh kebanyakan orang khususnya bagi para perempuan.
Dari kalangan perempuan yang tidak berhijab maupun orang yang berhijab juga
tidak ingin ketinggalan dengan fenomena tersebut.[6]
Narsistik
yang berada dalam selfie sendiri menjadikan seseorang begitu mengagumi
dan mencintai dirinya sendiri daripada yang lainnya. Ia juga ingin selalu
menjadi orang nomor satu tanpa ada seorang pun yang melebihinya. Seseorang
ingin dianggap ada, terlihat bernilai, jika foto tersebut diupload ke
media sosial. Terlebih lagi jika foto tersebut mendapat banyak like dan
komentar positif, ia akan merasakan eksistensinya ada pada foto tersebut.
Dari
pemaparan di atas, selfie dalam perspektif Islam dapat menimbulkan sifat
berbangga diri (ujub), ingin diketahui orang lain (riya’), dan
ingin dibesar-besarkan atau terkenal (sum’ah).
Rasulullah Saw bersabda,
ثلاث مهلكات : شخ مطاع ، وهوى متبع ، وإعجاب
المرء بنفسه
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa,
yang berkecukupan, dan yang tidak menonjolkan diri.” (HR. Muslim dari Said
al-Khudri)
Nafsu merupakan sumber dari penyakit, yang membahayakan dan pengakuan;
riya’, sum’ah, ujub, tidak menjaga diri, lupa, dan lalai. Getaran hati karena
nafsu muncul dari setan dan hawa nafsu, ia tidak mengandung sedikitpun cahaya.
Sebaliknya, ia mengandung kekufuran, kegelapan, dan kesesatan karena keindahan
yang menipu.[7]
2. Kesaksian Selfie Perempuan Berhijab
Melalui kecanggihan media sosial sekaarang ini
seseorang dapat menginformasikan hal yang bahkan sangat pribadi atau bisa juga
umumdengan temannya yang juga memiliki media sosial. Dengan tujuan untuk
mengetahui berita-berita terbaru. Dapat pula mengirimkan sebuah file tugas
kuliah yang penting. Dan juga pesan yang meghibur seperti lagu, video, ataupun
stiker lucu yang terdapat pada aplikasi dalam media sosial. Berikut kesaksian
dari para informan:
a. Kisah Informan Shasa
Shasa sekarang berusia 24 tahun, ia merupakan
mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya. Shasa merupakan asli anak Nganjuk. Shasa
memakai hijab biasa supaya tidak terlihat auratnya. Tetapi semenjak awal masuk
kuliah ia memulai memakai hijab syar’i. Perubahan model tersebut sangat
berpengaruh terhadap sikapnya, yang dulunya suka tertawa di jalan tanpa
terkontrol sekarang menjadikan ia menjaga untuk tetap sopan. Tetapi hal
tersebut tidak menghalanginya untuk tidak selfie, karena ia suka sekali
selfie. Setiap kali ia selfie pasti akan di unggah tetapi dicari
foto yang paling bagus terlebih dahulu, karena itu bisa membuatnya lebih
percaya diri.
Dulu ia melakukan selfie hanya untuk kesenangan
semata, dan untuk mendapatkan like. Tetapi untuk sekarang ini ia
melakukan selfie untuk berjualan online. Keuntungan yang didapat dari selfie
untuk mengekspresikan diri dan bisa dikenal banyak orang. Tetapi untuk
sekarang keuntungannya yaitu narsis sama dengan closing penjualan.
Karena berjualan sebuah produk dengan model kita sendiri akan lebih dipercaya
oleh konsumen. Menurutnya selama foto tersebut tidak berlebihan maka itu tidak
akan menjadi suatu masalah.[8]
C.
Analisis
Terhadap Selfie Perempuan Berhijab
1.
Fenomena
Selfie Perempuan Berhijab di Mata Publik
Perempuan
sangat identik dengan kecntikan dan keanggunan. Dari masa ke masa konsep
tentang cantik selalu mengalami perubahan. Jika dulu cantik terdapat pada
perempuan yang tidak memakai hijab, tetapi pada masa sekarang perempuan memakai
hijab pun berkontribui mengenai kecantikan. Karena pada setiap media sosial,
banyak terdapat gambar maupun video yang memperlihatkan perempuan memakai
hijab.
Hijab
saat ini tidak lagi menjadi simbol bahwa ia merupakan seorang muslim tetapi
juga sudah berubah menjadi sebuah gaya hidup bagi pemakaiannya. Melihat
perempuan berhijab saat ini bahwa mereka ingin mengaplikasikan dan memadukan
antara agama dan gaya hidup pada diri mereka. Karena dapat dilihat mulai dari mall,
cafe, atau tempat-tempat nongkrong lainnya, bahkan pada media sosial yang
merupakan dunia maya yang ada di dalamnya. Berbeda sekali dengan perempuan
berhijab zaman dahulu yang terkesan kuno dan tidak menarik.
Hadirnya
internet tersebut menjadikan perempuan berhijab semakin ingin menunjukkan
eksistensinya pada masyarakat luas. Terutama dalam mengunggah foto selfie di
setiap akun media sosial, seperti whatsapp, facebook, dan instagram.
Hal tersebut hampir setiap hari dengan menunjukkan penampilan yang sempurna
seperti cantik, anggun, dan indah menurutnya. Bertujuan supaya setiap orang
dapat melihatnya berubah, baik itu cantik atau tidak, bermanfaat atau tidak.
Selfie
bagi perempuan berhijab kemudian diunggah ke media sosial,
merupakan hal yang mendapatkan banyak penadangan dari masyarakat luas. Ada yang
berpandangan bahwa hal tersebut wajar jika tujuannya untuk kebaikan seperti
berjualan baju, kerudung, atau lainnya. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa
hal tersebut merupakan sesuatu yang banyak menimbulkan hal negatif, seperti
penculikan, kejahatan seksual, dan lain sebagainya.
Sehingga
kembali lagi kepada para perempuan yang mengunggah foto-foto selfie mereka.
Jika mereka memakai hijab hanya untuk menutupi aurat dan tidak diikuti dengan
perubahan sikap mereka, menjadikan mereka kurang sempurna dalam mengaplikasikan
hijab tersebut. Tetapi jika mereka memakai hijab dengan cara menjaga untuk
tidak mengunggah secara berlebihan ke media sosial, menjadkan mereka sempurna
dalam menjalankan perintah Allah.
Kecuali mereka memang memiliki usaha seperti berdagang baju, kerudung,
dan lain sebagainya.[9]
2.
Selfie
Perempuan Berhijab Perspektif Simulacra Jean Baudrillard
Jean
Baudrillard menyatakan bahwa ada tiga orde simulacra, pertama orde yang
menjelaskan tentang nilai hukum alam, kedua orde yang menjelaskan dalam lingkup
nilai hukum pasar, keiga orde pada ruang lingkup nilai hukum struktural dimana
tanda membentuk struktur dan memberikan arti sebuah kenyataan yang berlebihan.
Adanya
orde tersbut dapat disimpulkan bahwa perempuan berhijab yang dahulunya hanya
fokus pada hijab dan agamanya, sekarang bergeser menjadi konsumsi publik tanpa
terhalang apapun. Khususnya bagi perempuan berhijab yang berjualan online
seperti pakaian, make up, yang sebisa mungkin menunjukkan salah satu
dari tubuhnya untuk memberikan rasa percaya diri bagi konsumen. Perkembangan
teknologi tersebut yang mebuat tanda dan citra budaya tidak lagi berada pada
ruang kenyataan. Menjadikannya bercampur menjadi satu tanpa ada batasan-batasan
dalam menampilkan sesuatu.[10]
Fenomena
selfie pada perempuan berhijab yang kemudian mereka unggah pada akun
media sosial, yang merupakan awalnya berupa representasi dari ruang nyata
menjadikannya sebuah realitas tersendiri. Karena sebelum mengunggah mereka
memilih salah satu foto yang bagus dan menarik untuk dilihat oleh mata luas.
Padahal dari sekian banyak foto tidak semua foto tersebut bagus, melainkan ada
juga yang jelek. Sehingga mereka secara tidak langsung membohongi setiap mata
yang melihat. Ditambah dengan adanya fitur aplikasi untuk mempercantik wajah
semakin menjadikannya menarik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penjjelasan di
atas merupakan produk realitas buatan atau hiperrealitas.
Meski
tidak semua perempuan suka dengan selfie, tetapi tidak sedikit pula yang
gemar dalam selfie bahkan tidak segan untuk mengunggah pada setiap momen
di media sosial mereka. Sehingga kecanggihan media sosial ini menimbulkan para
perempuan yang menjadi pengguna terbanyak demi memuaskan hawa nafsunya, tanpa
sadar sudah masuk ke dalam dunia hiperrealitas. Secara tidak langsung ia telah
masuk dan menjadi seorang individu yang terjebak dalam dunia semu.
Selfie
sudah seperti kegiatan olahraga yang harus dilakukan setiap
harinya. Sehingga seperti yang diungkapkan Baudrillard dimana suatu dunia
hipeeal merupakan situasi yang tidak ada lagi pembatas antara dunia nyata dan
dunia imajinasi. Dalam perkembangannya yang menjadikan dunia media soisal
sangat digemari yakni dengan adanya artis-artis yang menjadi contoh bagi
penggemarnya sehingga mengikutinya.
Media
massa menjadi penyebab utama adanya hiperrealitas kesenangan. Media massa telah
memberikan tayangan berupa simulasi yang tidak lagi bersifat rahasia dan tanpa
adanya batasan yang jelas antara relaitas dan hiperrealitas. Hal tersebut yang
mengubah pemikiran masyarakat dan cara bersosialisasi mereka. Sehingga
melakukan sesuatu hal yang melanggar batasan moral termasuk hal yang wajar.
Sehingga dapat membahayakan perkembangan bagi generasi selanjutnya yang masih
mencari tentang makna-makna kehifupan dengan nilai-nilai moral di dalamnya.
Dengan begitu perlu pembimbing dan kontrol sosial atas berkembangnya citra
negatif pada dunia hiperrealitas. Hal tersebut sebenarnya dari diri kita
sendirilah yang bisa mengontrol dan membimbing hawa nafsu kita supaya tidak
masuk pada dunia hiperrealitas lebih jauh.[11]
D.
KESIMPULAN
Fenomena
selfie sekarang ini merupakan kegiatan yang tidak bisa dilepaskan dari
masyarakat luas, termasuk perempuan berhijab. Dimana pada dasarnya mereka
berhijab ingin menjadi seseorang yang lebih baik lagi tetapi tetap melakukan selfie.
Hal tersebut menurut pandangan mereka, berhijab tidak membatasinya untuk
melakukan selfie dan mengunggahnya pada media sosial. Karena menurut
mereka kegiatan tersebut membuatnya menjadi lebih mudah dalam melakukan dakwah.
Dengan cara melalui foto selfie kemudian ditambahi caption dalam
unggahannya seperti ayat-ayat Al-Qur’an dengan terjemahannya, kata-kata
motivasi, dan lain sebagainya. Juga bisa mempermudah untuk berdagang melalui
unggahan selfienya. Hal tersebut mebuat mereka semakin percaya diri
bahwa yang dilakukan itu baik aslakan masih pada batas yang wajar.
Jean
Baudrillard menyatakan bahwa terjadi pergeseran makna dari hijab yang merupakan
syariat menjadi gaya hidup. Dan dalam selfie tersebut apa yang mereka
unggah bukan berarti itu yang nyata dari mereka, dan itu yang dinamakan kode
struktural. Hal tersebut membuatnya berada pada ruang simulasi, dimana yang
nyata dan imajinasi sudah tidak dapat dibedakan lagi.
DAFTAR
PUSTAKA
Aginta
Hidayat, Medhy. 2017, Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisme Jean
Baudrillard, Yogyakarta: Jalasutra
Heldi. 2009, Perilaku
Konsumtif Masyarakat Modern, Bandung: Jurnal Al-Iqtishad
Heryanto, Ariel. 2017, Postmodernisme, Jakarta: Jurnal Kebudayaan
Lela
Nur Insani, Laela. 2017. Perilaku Konsumtif Mahasiswa di Kampus II UIN
Alauddin Samata Gowa, Makassar: UIN Alauddin
Ma’rifatul
Hanik, Gayu. 2019, Selfie Perempuan Berhijab Pada Media Sosial Analisis
Simulacra Jean Baudrillard, Surabaya: UIN Sunan Ampel
Marta
Almas, Dinda. 2018, Mahasiswa dan
Instagram, Surabaya: Jurnal S1 Sosiologi FISIP Universitas Airlangga
Mukaromah, Haniatul. 2015, Mayarakat Hiperreality, Purwokerto:
IAIN Purwokerto
Murtiningsih,
Siti. 2013, Problem Pendidikan Video Games Dalam Perspektif Teori Simulacra
Jean Baudrillard, Yogyakarta: Jurnal Ilmu Pendidikan
Noviani, Ratna. 2019, Fenomena Selfie Masyarakat Konsumtif, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Starigo
Nursihka, Envoy. 2014, Hijabers Surabaya Sebagai Icon Fashion Muslim, Malang:
Jurnal Ilmiah
[1]
Gayu Ma’rifatul Hanik, Selfie Perempuan Berhijab Pada Media Sosial Analisis
Simulacra Jean Baudrillard, (Surabaya: UIN Sunan Ampel, 2019), hlm. 8-9
[2]
Haniatul Mukaromah, Mayarakat Hiperreality, (Purwokerto: IAIN
Purwokerto, 2015), hlm. 12
[3]
Siti Murtiningsih, Problem Pendidikan Video Games Dalam Perspektif Teori
Simulacra Jean Baudrillard, (Yogyakarta: Jurnal Ilmu Pendidikan, 2013),
hlm. 82
[4]
Lela Nur Insani, Perilaku Konsumtif Mahasiswa di Kampus II UIN Alauddin
Samata Gowa, (Makassar: UIN Alauddin, 2017), hlm. 18-19
[5]
Envoy Starigo Nursihka, Hijabers Surabaya Sebagai Icon Fashion Muslim,
(Malang: Jurnal Ilmiah, 2014), hlm. 6-7
[6]
Gayu Ma’rifatul Hanik, Selfie Perempuan Berhijab Pada Media Sosial Analisis
Simulacra Jean Baudrillard, (Surabaya: UIN Sunan Ampel, 2019), hlm. 24-27
[7]
Dinda Marta Almas, Mahasiswa dan Instagram, (Surabaya: Jurnal S1
Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, 2018), hlm. 35
[8]
Heldi, Perilaku Konsumtif Masyarakat Modern, (Bandung: Jurnal
Al-Iqtishad, 2009), hlm. 18
[9]
Ariel Heryanto, Postmodernisme, (Jakarta: Jurnal Kebudayaan, 2017), hlm.
80-82
[10]
Medhy Aginta Hidayat, Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisme Jean
Baudrillard, (Yogyakarta: Jalasutra, 2017), hlm. 42-48
[11]
Ratna Noviani, Fenomena Selfie Masyarakat Konsumtif, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2019), hlm. 95-101