Selasa, 17 Desember 2019

SELFIE REMAJA BERHIJAB PADA MEDIA SOSIAL ANALISIS TEORI SIMULACRA JEAN BAUDRILLARD



SELFIE REMAJA BERHIJAB PADA MEDIA SOSIAL
ANALISIS TEORI SIMULACRA JEAN BAUDRILLARD
Oleh Muizatul Ulfa

I.          PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi  pada era globalisasi dan abad virtual sekarang ini mengalami peningkatan yang sangat pesat dari waktu ke waktu. Informasi baik penting atau tidak tentang suatu fenomena atau kejadian di belahan dunia manapun dapat diakses dengan mudah tanpa harus berada di tempat tersebut. Konsep sosial seperti integritas, nasionalisme, dan kesatuan semakin lama kehilangan realitasnya seiring perkembangan tersebut.. Dan akhirnya menggiring masyarakat global ke akhir sosial sebagai akibat modernisasi yang telah mencapai titik ekstrimnya atau bisa disebut dengan hipermodernisasi kontemporer. [1]
Salah satu teknologi yang sekarang berkembang dengan pesat adalah handphone. Yang pada zaman dahulu digunakan untuk berkomunikasi antara satu orang dengan orang lainnya, sekarang memiliki fungsi lain yaitu bisa digunakan untuk mengambil gambar karena sudah memiliki aplikasi kamera seperti pada kamera digital. Dan juga yang pada awalnya kamera handphone hanya ada di belakang layar sehingga jika kita ingin foto diri sendiri maka perlu bantuan orang lain untuk memotretnya. Tapi pada zaman sekarang sudah ada fitur kamera depan, dimana ketika kita ingin memfoto diri kita sendiri, kita tidak usah repot meminta bantuan orang lain, tapi bisa dengan cara mempotret diri sendiri. Proses mempotret diri sendiri ini dinamakan selfie. [2]
Dalam hal ini selfie merupakan hal yang sangat wajar bagi masyarakat umum. Karena selfie bukanlah hal yang melanggar hukum jika dilakukan dengan tepat. Tetapi disisi lain apakah wajar juga jika selfie idilakukan oleh perempuan berhijab? Dimana orang yang berhijab terkadang merupakan orang-orang yang ingin menjadikan dirinya sebagai seorang manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Dari hal tersebut, apa tujuan mereka memperlihatkan diri mereka secara tidak langsung kepada orang banyak dengan cara selfie kemudian diunggahnya pada media soisal? Kemudian pada makalah ini akan sedikit meneangkan tentang fenomena selfie perempuan berhijab pada media sosial dan analisisnya perspektif teori simulacra Jean Baudrillard.



II.       PEMBAHASAN
A.    Teori Simulacra Jean Baudrillard
Jean Baudrillard dalam bukunya yang berjudul Simulacra dan Simulations menyebut ciri khas masyarakat sekarang ini ditandai dengan suatu simulasi atau tiruan dari aslinya. Proses simulasi mengarah kepada penciptaan simulacra, yang merupakan dunia yang terbangun dari bercampurnya antara tanda, citra, nilai, fakta, dan kode. Simulacra ini merupakan tempat mekanisme simulasi berlangsung. Dalam konsep perkembangan virtual manusia dijebak dalam ruang realitas yang dianggapnya nyata padahal sesungguhnya semu dan penuh rekayasa. Dalam dunia simulasi, bukan realitas yang menjadi cermin kenyataan melainkan model-model. Sekarang teknologi bukan lagi sekedar perpanjangan tubuh atau sistem syaraf manusia. Namun mampu menciptakan realitas baru dengan citra buatan dan menyulap fantasi, ilusi, bahkan halusinasi menjadi kenyataan. Serta melipat realitas ke dalam sebuah flashdisk atau memory bank.
Realitas yang dihasilkan teknologi baru ini seperti internet, memory card, DVD, video games, prosesor komputer, telah mampu memproduksi realitas, dan masa lalu. Juga telah mengalahkan realitas yang sesungguhnya dan menjadi model acuan yang baru bagi masyarakat.[3] Alasan terpenting untuk penciptaan simulasi karena mereka dapat dibuat lebih spektakuler dari pada aslinya, oleh sebab itu dapat lebih menarik konsumen. Kehidupan modern ini dilukiskan oleh Baudrillard sebagai hiperrealitas. Contohnya media berhenti menjadi cerminan realitas, tetapi justru menjadi realitas itu sendiri. Bahkan lebih nyata dari pada realitas itu sendiri. Tabloid, surat kabar, yang memberitahukan sesuatu yang sedemikian populernya di TV setiap hari dijajakannya kepada pemirsa melebihi realitas. Distorsi dan kebohongan itu yang disebut dengan hiperrealitas.
 Di TV realitas-realitas baru diciptakan dengan ditayangkannya iklan-iklan sehingga membentuk sebuah realitas. Iklan yang menggunakan realitas untuk membentuk realitas yang baru yang sebenarnya tidak terlalu berhubungan dengan keadaan sebenarnya, namun karena iklan ditayangkan secara berulang-ulang maka realitas yang tidak berkaitan tersebut diterima sebagai realitas sesungguhnya.[4] Simulasi menutup kesadaran seseorang dalam tatanan kesadaran mengenai realitas yang sesungguhnya. Logika realitas yang sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan logika dalam simulasi. Kesadaran dalam bentuk simulasi merupakan kesadaran yang dihasilkan melalui realitas semu. Media sosial, media informasi menghasilkan pemaknaan dunia dalam simulasi berdasarkan realitas semu melalui citra-citra, tanda, dan kode.[5]

B.     Kilas Singkat Selfie
1.      Definisi Selfie dan Menurut Pandangan Islam
            Dalam bahasa Indonesia Selfie berarti swafoto, merupakan singkatan dari self  potrait yaitu foto yang diambil oleh diri sendiri. Gaya berfoto yang menampilkan bentuk diri kita baik itu wajah, tubuh, atau bagian tubuh lainnya. Dan setelah berselfie biasanya foto tersebut di unggah ke media sosial. Selfie tidak hanya menggunakan kamera handphone tetapi juga bisa menggunakan kamera digital. Pada era sekarang ini selfie sudah menjadi fenomena yang luar biasa karena menjadi kegiatan paling menarik yang dilakukan oleh kebanyakan orang khususnya bagi para perempuan. Dari kalangan perempuan yang tidak berhijab maupun orang yang berhijab juga tidak ingin ketinggalan dengan fenomena tersebut.[6]
Narsistik yang berada dalam selfie sendiri menjadikan seseorang begitu mengagumi dan mencintai dirinya sendiri daripada yang lainnya. Ia juga ingin selalu menjadi orang nomor satu tanpa ada seorang pun yang melebihinya. Seseorang ingin dianggap ada, terlihat bernilai, jika foto tersebut diupload ke media sosial. Terlebih lagi jika foto tersebut mendapat banyak like dan komentar positif, ia akan merasakan eksistensinya ada pada foto tersebut.
Dari pemaparan di atas, selfie dalam perspektif Islam dapat menimbulkan sifat berbangga diri (ujub), ingin diketahui orang lain (riya’), dan ingin dibesar-besarkan  atau terkenal (sum’ah). Rasulullah Saw bersabda,
ثلاث مهلكات : شخ مطاع ، وهوى متبع ، وإعجاب المرء بنفسه
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, yang berkecukupan, dan yang tidak menonjolkan diri.” (HR. Muslim dari Said al-Khudri)
Nafsu merupakan sumber dari penyakit, yang membahayakan dan pengakuan; riya’, sum’ah, ujub, tidak menjaga diri, lupa, dan lalai. Getaran hati karena nafsu muncul dari setan dan hawa nafsu, ia tidak mengandung sedikitpun cahaya. Sebaliknya, ia mengandung kekufuran, kegelapan, dan kesesatan karena keindahan yang menipu.[7]
2.      Kesaksian Selfie Perempuan Berhijab
Melalui kecanggihan media sosial sekaarang ini seseorang dapat menginformasikan hal yang bahkan sangat pribadi atau bisa juga umumdengan temannya yang juga memiliki media sosial. Dengan tujuan untuk mengetahui berita-berita terbaru. Dapat pula mengirimkan sebuah file tugas kuliah yang penting. Dan juga pesan yang meghibur seperti lagu, video, ataupun stiker lucu yang terdapat pada aplikasi dalam media sosial. Berikut kesaksian dari para informan:
a.     Kisah Informan Shasa
Shasa sekarang berusia 24 tahun, ia merupakan mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya. Shasa merupakan asli anak Nganjuk. Shasa memakai hijab biasa supaya tidak terlihat auratnya. Tetapi semenjak awal masuk kuliah ia memulai memakai hijab syar’i. Perubahan model tersebut sangat berpengaruh terhadap sikapnya, yang dulunya suka tertawa di jalan tanpa terkontrol sekarang menjadikan ia menjaga untuk tetap sopan. Tetapi hal tersebut tidak menghalanginya untuk tidak selfie, karena ia suka sekali selfie. Setiap kali ia selfie pasti akan di unggah tetapi dicari foto yang paling bagus terlebih dahulu, karena itu bisa membuatnya lebih percaya diri.
Dulu ia melakukan selfie hanya untuk kesenangan semata, dan untuk mendapatkan like. Tetapi untuk sekarang ini ia melakukan selfie untuk berjualan online. Keuntungan yang didapat dari selfie untuk mengekspresikan diri dan bisa dikenal banyak orang. Tetapi untuk sekarang keuntungannya yaitu narsis sama dengan closing penjualan. Karena berjualan sebuah produk dengan model kita sendiri akan lebih dipercaya oleh konsumen. Menurutnya selama foto tersebut tidak berlebihan maka itu tidak akan menjadi suatu masalah.[8]

C.     Analisis Terhadap Selfie Perempuan Berhijab
1.      Fenomena Selfie Perempuan Berhijab di Mata Publik
Perempuan sangat identik dengan kecntikan dan keanggunan. Dari masa ke masa konsep tentang cantik selalu mengalami perubahan. Jika dulu cantik terdapat pada perempuan yang tidak memakai hijab, tetapi pada masa sekarang perempuan memakai hijab pun berkontribui mengenai kecantikan. Karena pada setiap media sosial, banyak terdapat gambar maupun video yang memperlihatkan perempuan memakai hijab.
Hijab saat ini tidak lagi menjadi simbol bahwa ia merupakan seorang muslim tetapi juga sudah berubah menjadi sebuah gaya hidup bagi pemakaiannya. Melihat perempuan berhijab saat ini bahwa mereka ingin mengaplikasikan dan memadukan antara agama dan gaya hidup pada diri mereka. Karena dapat dilihat mulai dari mall, cafe, atau tempat-tempat nongkrong lainnya, bahkan pada media sosial yang merupakan dunia maya yang ada di dalamnya. Berbeda sekali dengan perempuan berhijab zaman dahulu yang terkesan kuno dan tidak menarik.
Hadirnya internet tersebut menjadikan perempuan berhijab semakin ingin menunjukkan eksistensinya pada masyarakat luas. Terutama dalam mengunggah foto selfie di setiap akun media sosial, seperti whatsapp, facebook, dan instagram. Hal tersebut hampir setiap hari dengan menunjukkan penampilan yang sempurna seperti cantik, anggun, dan indah menurutnya. Bertujuan supaya setiap orang dapat melihatnya berubah, baik itu cantik atau tidak, bermanfaat atau tidak.
Selfie bagi perempuan berhijab kemudian diunggah ke media sosial, merupakan hal yang mendapatkan banyak penadangan dari masyarakat luas. Ada yang berpandangan bahwa hal tersebut wajar jika tujuannya untuk kebaikan seperti berjualan baju, kerudung, atau lainnya. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang banyak menimbulkan hal negatif, seperti penculikan, kejahatan seksual, dan lain sebagainya.
Sehingga kembali lagi kepada para perempuan yang mengunggah foto-foto selfie mereka. Jika mereka memakai hijab hanya untuk menutupi aurat dan tidak diikuti dengan perubahan sikap mereka, menjadikan mereka kurang sempurna dalam mengaplikasikan hijab tersebut. Tetapi jika mereka memakai hijab dengan cara menjaga untuk tidak mengunggah secara berlebihan ke media sosial, menjadkan mereka sempurna dalam menjalankan perintah Allah.  Kecuali mereka memang memiliki usaha seperti berdagang baju, kerudung, dan lain sebagainya.[9]

2.      Selfie Perempuan Berhijab Perspektif Simulacra Jean Baudrillard
Jean Baudrillard menyatakan bahwa ada tiga orde simulacra, pertama orde yang menjelaskan tentang nilai hukum alam, kedua orde yang menjelaskan dalam lingkup nilai hukum pasar, keiga orde pada ruang lingkup nilai hukum struktural dimana tanda membentuk struktur dan memberikan arti sebuah kenyataan yang berlebihan.
Adanya orde tersbut dapat disimpulkan bahwa perempuan berhijab yang dahulunya hanya fokus pada hijab dan agamanya, sekarang bergeser menjadi konsumsi publik tanpa terhalang apapun. Khususnya bagi perempuan berhijab yang berjualan online seperti pakaian, make up, yang sebisa mungkin menunjukkan salah satu dari tubuhnya untuk memberikan rasa percaya diri bagi konsumen. Perkembangan teknologi tersebut yang mebuat tanda dan citra budaya tidak lagi berada pada ruang kenyataan. Menjadikannya bercampur menjadi satu tanpa ada batasan-batasan dalam menampilkan sesuatu.[10]
Fenomena selfie pada perempuan berhijab yang kemudian mereka unggah pada akun media sosial, yang merupakan awalnya berupa representasi dari ruang nyata menjadikannya sebuah realitas tersendiri. Karena sebelum mengunggah mereka memilih salah satu foto yang bagus dan menarik untuk dilihat oleh mata luas. Padahal dari sekian banyak foto tidak semua foto tersebut bagus, melainkan ada juga yang jelek. Sehingga mereka secara tidak langsung membohongi setiap mata yang melihat. Ditambah dengan adanya fitur aplikasi untuk mempercantik wajah semakin menjadikannya menarik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penjjelasan di atas merupakan produk realitas buatan atau hiperrealitas.
Meski tidak semua perempuan suka dengan selfie, tetapi tidak sedikit pula yang gemar dalam selfie bahkan tidak segan untuk mengunggah pada setiap momen di media sosial mereka. Sehingga kecanggihan media sosial ini menimbulkan para perempuan yang menjadi pengguna terbanyak demi memuaskan hawa nafsunya, tanpa sadar sudah masuk ke dalam dunia hiperrealitas. Secara tidak langsung ia telah masuk dan menjadi seorang individu yang terjebak dalam dunia semu.
Selfie sudah seperti kegiatan olahraga yang harus dilakukan setiap harinya. Sehingga seperti yang diungkapkan Baudrillard dimana suatu dunia hipeeal merupakan situasi yang tidak ada lagi pembatas antara dunia nyata dan dunia imajinasi. Dalam perkembangannya yang menjadikan dunia media soisal sangat digemari yakni dengan adanya artis-artis yang menjadi contoh bagi penggemarnya sehingga mengikutinya.
Media massa menjadi penyebab utama adanya hiperrealitas kesenangan. Media massa telah memberikan tayangan berupa simulasi yang tidak lagi bersifat rahasia dan tanpa adanya batasan yang jelas antara relaitas dan hiperrealitas. Hal tersebut yang mengubah pemikiran masyarakat dan cara bersosialisasi mereka. Sehingga melakukan sesuatu hal yang melanggar batasan moral termasuk hal yang wajar. Sehingga dapat membahayakan perkembangan bagi generasi selanjutnya yang masih mencari tentang makna-makna kehifupan dengan nilai-nilai moral di dalamnya. Dengan begitu perlu pembimbing dan kontrol sosial atas berkembangnya citra negatif pada dunia hiperrealitas. Hal tersebut sebenarnya dari diri kita sendirilah yang bisa mengontrol dan membimbing hawa nafsu kita supaya tidak masuk pada dunia hiperrealitas lebih jauh.[11]

D.       KESIMPULAN
Fenomena selfie sekarang ini merupakan kegiatan yang tidak bisa dilepaskan dari masyarakat luas, termasuk perempuan berhijab. Dimana pada dasarnya mereka berhijab ingin menjadi seseorang yang lebih baik lagi tetapi tetap melakukan selfie. Hal tersebut menurut pandangan mereka, berhijab tidak membatasinya untuk melakukan selfie dan mengunggahnya pada media sosial. Karena menurut mereka kegiatan tersebut membuatnya menjadi lebih mudah dalam melakukan dakwah. Dengan cara melalui foto selfie kemudian ditambahi caption dalam unggahannya seperti ayat-ayat Al-Qur’an dengan terjemahannya, kata-kata motivasi, dan lain sebagainya. Juga bisa mempermudah untuk berdagang melalui unggahan selfienya. Hal tersebut mebuat mereka semakin percaya diri bahwa yang dilakukan itu baik aslakan masih pada batas yang wajar.
Jean Baudrillard menyatakan bahwa terjadi pergeseran makna dari hijab yang merupakan syariat menjadi gaya hidup. Dan dalam selfie tersebut apa yang mereka unggah bukan berarti itu yang nyata dari mereka, dan itu yang dinamakan kode struktural. Hal tersebut membuatnya berada pada ruang simulasi, dimana yang nyata dan imajinasi sudah tidak dapat dibedakan lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Aginta Hidayat, Medhy. 2017, Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard, Yogyakarta: Jalasutra

Heldi. 2009,  Perilaku Konsumtif Masyarakat Modern, Bandung: Jurnal Al-Iqtishad

Heryanto, Ariel. 2017, Postmodernisme, Jakarta: Jurnal Kebudayaan

Lela Nur Insani, Laela. 2017. Perilaku Konsumtif Mahasiswa di Kampus II UIN Alauddin Samata Gowa, Makassar: UIN Alauddin

Ma’rifatul Hanik, Gayu. 2019, Selfie Perempuan Berhijab Pada Media Sosial Analisis Simulacra Jean Baudrillard, Surabaya: UIN Sunan Ampel

Marta Almas, Dinda. 2018,  Mahasiswa dan Instagram, Surabaya: Jurnal S1 Sosiologi FISIP Universitas Airlangga

Mukaromah, Haniatul. 2015, Mayarakat Hiperreality, Purwokerto: IAIN Purwokerto

Murtiningsih, Siti. 2013, Problem Pendidikan Video Games Dalam Perspektif Teori Simulacra Jean Baudrillard, Yogyakarta: Jurnal Ilmu Pendidikan

Noviani, Ratna. 2019, Fenomena Selfie Masyarakat Konsumtif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Starigo Nursihka, Envoy. 2014, Hijabers Surabaya Sebagai Icon Fashion Muslim, Malang: Jurnal Ilmiah



[1] Gayu Ma’rifatul Hanik, Selfie Perempuan Berhijab Pada Media Sosial Analisis Simulacra Jean Baudrillard, (Surabaya: UIN Sunan Ampel, 2019), hlm. 8-9
[2] Haniatul Mukaromah, Mayarakat Hiperreality, (Purwokerto: IAIN Purwokerto, 2015), hlm. 12
[3] Siti Murtiningsih, Problem Pendidikan Video Games Dalam Perspektif Teori Simulacra Jean Baudrillard, (Yogyakarta: Jurnal Ilmu Pendidikan, 2013), hlm. 82
[4] Lela Nur Insani, Perilaku Konsumtif Mahasiswa di Kampus II UIN Alauddin Samata Gowa, (Makassar: UIN Alauddin, 2017), hlm. 18-19
[5] Envoy Starigo Nursihka, Hijabers Surabaya Sebagai Icon Fashion Muslim, (Malang: Jurnal Ilmiah, 2014), hlm. 6-7
[6] Gayu Ma’rifatul Hanik, Selfie Perempuan Berhijab Pada Media Sosial Analisis Simulacra Jean Baudrillard, (Surabaya: UIN Sunan Ampel, 2019), hlm. 24-27
[7] Dinda Marta Almas, Mahasiswa dan Instagram, (Surabaya: Jurnal S1 Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, 2018), hlm. 35
[8] Heldi, Perilaku Konsumtif Masyarakat Modern, (Bandung: Jurnal Al-Iqtishad, 2009), hlm. 18
[9] Ariel Heryanto, Postmodernisme, (Jakarta: Jurnal Kebudayaan, 2017), hlm. 80-82
[10] Medhy Aginta Hidayat, Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard, (Yogyakarta: Jalasutra, 2017), hlm. 42-48
[11] Ratna Noviani, Fenomena Selfie Masyarakat Konsumtif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2019), hlm. 95-101

Pembacaan Surat Maryam dan Yasin Dalam Tradisi Mitoni

 PEMBACAAN SURAT MARYAM DAN YUSUF DALAM TRADISI MITONI (Kajian Living al-Qur’an di Desa Kadilangu, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang) Muiza...